Rasulullah tak gentar walau Matahari di tangan kanan dan Bulan di tangan kiri
az zahra lampung, sd islam az zahra, pendaftaran sd lampung, sd islam az zahra, sd islam lampung, sd islam bandarlampung
27349
post-template-default,single,single-post,postid-27349,single-format-standard,theme-stockholm,qode-social-login-1.1.3,qode-restaurant-1.1.1,stockholm-core-1.2.1,woocommerce-no-js,select-theme-ver-5.2.1,ajax_fade,page_not_loaded,menu-animation-underline,no_animation_on_touch,jet-mobile-menu-active,wpb-js-composer js-comp-ver-6.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22534,elementor-page elementor-page-27349
Title Image

Rasulullah tak gentar walau Matahari di tangan kanan dan Bulan di tangan kiri

Setelah seruan Rasulullah di bukit Shafa, dakwah bukan lagi sekadar berbisik-bisik dan rahasia tetapi sudah mulai terdengar di segala penjuru Mekkah. Melihat perkembangan agama Islam yang berkembang dengan pesat, para pembesar Quraisy mulai was-was dan penuh waspada karena akan merusak sistem dan tatanan masyarakat. 

Ada tiga pilihan yang dilakukan untuk mencemarkan nama Rasulullah yaitu menfitnah Rasulullah sebagai :

1.  Penyihir yang mengaku mendapatkan hikmah dan bisa berhubungan dengan Jin.
2. Penyair yang mampu menggubah perkataan indah dan penuh senandung.
3. Orang Gila yang lari dari agama kaumnya dan punya nafsu berkuasa , atau pembuat ajaran baru untuk mencari perhatian. 


Selain mencemarkan nama baik Rasulullah, mereka juga berniat untuk membunuh Rasulullah. 


Ada beberapa utusan yang diutus untuk menghadap kepada Abu Muthalib  yaitu Utbah, Abu Jahal, Abu Sufyan, Walid bin Mughirah dan Syaibah bin Rabiah. Mereka berkata, ” Wahai Abu Thalib, sesungguhnya keponakanmu itu menghina tuhan-tuhan kita, mencela agama kita, dan mendustai harapan kita. Serahkanlah dia pada kami dan biarkan kami dan dia menyelesaiakan masalah ini.”

Abu Muthalib menenangkan mereka sehingga mereka pulang. Tetapi, Rasulullah tetap pada sikapnya yang membuat para pembesar Quraisy kembali menemui Abu Muthalib untuk menghentikan seruan Rasulullah. Mereka berkata,” Wahai Abu Thalib, sungguh engkau adalah orang yang dituakan, engkau orang yang mulia dan terhormat di tengah kami. Kami telah memintamu menghentikan keponakanmu, tetapi engkau  tidak melarangnya. Sungguh kami tidak akan bisa bersabar atas semua ini, nenek moyang yang dicerca, dan tuhan kami yang dilecehkan. Kami tidak akan sanggup hingga engkau menghentikannya atau kamu termasuk bagian darinya, lalu kita lihat seapa diantara kita berdua yang binasa.”

Abu Muthalib pergi menemui keponakannya Rasulullah dan berkata seraya membujuk,” Wahai anak saudaraku, sungguh kaummu telah mendatangiku, mereka mengatakan ini dan itu. Maka selamatkanlah diriku dan juga dirimu, jangan biarkan aku menanggung beban yang tidak sanggung aku pikul.”

Terguncanglah hati Rasulullah, beliau menduga pamanny tak sanggup lagi membela dan melidungi beliau. Beliau terdiam sejenak kemudian berkata,” Wahai pamanku.. Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan dakwah ini, maka aku tidak akan pernah meninggalkan ini hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenanya.”

Bercucur air mata Rasulullah mengucapkan kata-kata itu, beliau lalu bangkit berdiri. Abu Mutahlib memangil beliau dan berkata,” Pergilah wahai keponakanku, katakanlah apa yang kamu sukai dan demi Allah aku tidak akan pernah menyerahkanmu pada siapa pun selamanya.”

Rujukan: 

📖 Muhammad Sang Yatim karya Prof. DR. Muhammad Sameh Said

Yayasan Fatimah Az Zahra Lampung