Panasnya api dan indahnya Hidayah ( Bagian 1 )
az zahra lampung, sd islam az zahra, pendaftaran sd lampung, sd islam az zahra, sd islam lampung, sd islam bandarlampung
27331
post-template-default,single,single-post,postid-27331,single-format-standard,theme-stockholm,qode-social-login-1.1.3,qode-restaurant-1.1.1,stockholm-core-1.2.1,woocommerce-no-js,select-theme-ver-5.2.1,ajax_fade,page_not_loaded,menu-animation-underline,jet-desktop-menu-active,wpb-js-composer js-comp-ver-6.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22534,elementor-page elementor-page-27331
Title Image

Panasnya api dan indahnya Hidayah ( Bagian 1 )

Pada zaman Malik bin Dinar, ada dua orang bersaudara yang beragama Majusi (penyembah api). Saudara yang tua telah tujuh puluh tahun memeluk agama itu. Sedang yang muda, baru tiga puluh tahun memeluk Majusi.


Suatu hari si muda berkata pada si tua, “wahai saudaraku, mari kita coba, apakah api akan menghindarkan panas dari kita atau malah membakar kita sebagaimana ia membakar orang-orang yang tidak menyembahnya. Seandainya ia tidak membakar kita, maka kita akan tetap terus menyembahnya. Namun jika ia membakar kita, maka kita tidak perlu lagi menyembahnya.”


Saudara tua menyetujui ajakan si muda. Lalu kedua orang tua itu menyulut api. Ketika api telah berkobar, si muda berkata pada si tua, “aku dulu apa kamu dulu yang memasukan tangan ke kobaran api ini?”

Si tua menjawab, “engkau dulu yang melakukannya.”


Si muda langsung memasukkan tangannya kedalam kobaran api. Namun tak lama kemudian, lelaki itu menyeringai kesakitan dan langsung menarik tangannya. Api telah menghanguskan jari-jemari tangannya. 

Si muda itu berkata, “aku telah menyembahmu selama tiga puluh tahun. Tapi kenapa, kamu malah membakar dan menyakitiku?


Si muda juga berkata pada si tua, “wahai saudaraku, marilah kita menyembah Tuhan Maha Esa. Walaupun kita telah melakukan perbuatan dosa dan tidak menjalankan perintah-Nya selama ratusan tahun, misalnya, tetapi Ia masih berkenan memaafkan kita dalam sekejap meski kita cuma membaca istighfar sekali dan taat baru sesaat.”

Si tua pun menyetujuinya. Keduanya kemudian sepakat hendak mendatangi Malik bin Dinar agar diajari ilmu-ilmu Islam.


Mereka menemukan Malik bin Dinar di pusat kota Basrah. Ketika itu beliau tengah memberikan ceramah dan fatwa pada orang-orang yang berkumpul disekelilingnya. Namun, disaat keduanya melihat Malik bin Dinar, si tua berkata, “aku tidak ingin masuk Islam kerena sebagian umurku telah kuhabiskan untuk menyembah api. Dan seandainya aku masuk Islam dan mengikuti ajaran Muhammad shalaullahu ‘alaihi wasalam. itu, tentu keluarga dan tetangga-tetanggaku akan mentertawakan dan mencemoohku. Menyembah api lebih aku sukai dari pada cemoohan dan ejekan mereka.”


Si muda berusaha meyakinkan, “sesungguhnya cemoohan mereka lama kelamaan akan hilang. Sedang api neraka, kekal selamanya.”


Namun si tua tak mau  mengikuti nasihat itu. Ia tetap bersikukuh pada pendiriannya tak mau masuk Islam. Dan dia kembali pada sesembahannya semula (api).


Setelah saudaranya itu pergi, si muda serta anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu menemui Malik bin Dinar. Mereka duduk di antara pada jamaah yang sedang mendengarkan ceramah Malik bin Dinar. Kemudian si muda berdiri dan menceritakan kisah perjalanan hidupnya. Selanjutnya ia meminta Malik bin Dinar memberi petunjuk, mengajari serta meng-Islamkannya beserta anak istrinya.


Malik bin Dinar mengajarkan Islam pada si muda dan keluarganya. Mereka pun masuk Islam. Para hadirin yang ada di tempat itu tak mampu menahan tangis karena haru dan bahagia.

 

Yayasan Fatimah Az Zahra Lampung