Upah kerja dari Sang Maha Raja (bagian 2)
az zahra lampung, sd islam az zahra, pendaftaran sd lampung, sd islam az zahra, sd islam lampung, sd islam bandarlampung
27356
post-template-default,single,single-post,postid-27356,single-format-standard,theme-stockholm,qode-social-login-1.1.3,qode-restaurant-1.1.1,stockholm-core-1.2.1,woocommerce-no-js,select-theme-ver-5.2.1,ajax_fade,page_not_loaded,menu-animation-underline,jet-desktop-menu-active,wpb-js-composer js-comp-ver-6.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22534,elementor-page elementor-page-27356
Title Image

Upah kerja dari Sang Maha Raja (bagian 2)

Setelah masuk Islam si muda beserta keluarga mohon izin untuk pergi. Namun, Malik bin Dinar mencegahnya seraya berkata. “tunggulah sebentar sampai telah terkumpul harta benda teman-temanku untukmu.”


Si muda menjawab dengan halus, “aku tidak mau menukar keyakinanku (agama) dengan harta benda.”


Kemudian keluarga si muda itu meninggalkan kediaman Malik bin Dinar. Mereka mendatangi sebuah desa, dan akhirnya menemukan rumah kosong di tempat itu. Mereka tinggal dan tidur di sana.


Ketika pagi menjelang, istri si muda berkata, “pergilah ke pasar, dan carilah pekerjaan. Lalu gunakan upah dari pekerjaan itu untuk membeli makanan untuk keluarga kita.”


Si muda pun pergi ke pasar mencari pekerjaan.


Sekian lama mencari pekerjaan, si muda tidak mendapatkannya. Tak seorangpun di sekitar pasar mau memperkerjakannya. Setengah putuh asa, si muda berkata, “Aku akan bekerja pada Allah saja.”


Kemudian si muda pergi ke sebuah masjid yang kosong dari jamaah. Di masjid itu ia beribadah, shalat hingga sore tiba. Saat malam menjelang, ia pulang dengan tangan hampa.


“Apa kamu tidak mendapat pekerjaan?” tanya si istri ketika suaminya itu tiba.


“Wahai istriku, seharian tadi aku  bekerja pada Sang Maharaja. Tapi Beliau belum memberiku upah. Semoga besok Dia membayarku, “jawab si muda.


Malam itu, si muda sekeluarga tidur menahan lapar.


Ketika pagi menjelang, si muda pergi lagi kepasar untuk mecari pekerjaan. Seperti halnya kemarin, ia tak mendapatkan pekerjaan. Maka setengah putus asa, seperti halnya kemarin juga, si muda pergi  ke masjid untuk beribadah. Sampai sore.


Ketika malam, ia kembali pulang dengan tangan hampa. 

“Apa hari ini engkau juga belum mendapat upah?” tanya sang istri.


Si muda menjawab, “wahai istriku, hari ini aku bekerja pada Raja yang kemarin. Namun hari ini beliau belum juga memberiku upah. Aku berharap Beliau memberiku upah besok, sebab besok bertepatan hari Jum’at.”


Malam itu si muda sekeluarga kembali tidur dalam keadaan lapar.

Pagi harinya, si muda pergi lagi ke pasar dan mencari pekerjaan. Namun ia tak juga mendapatkannya. Maka ia segera pergi ke masjid, shalat dua raka’at kemudian menegadahkan kedua tangannya seraya berdo’a, “Ya Tuhanku, Engkau benar-benar telah memuliakanku dengan anugerah Isalm. Engkau telah memahkotaiku dengan mahkota Islam. Dan Engkau telah memberiku hidayah hingga aku memeluk Islam. Maka demi kemuliaan anugerah (Islam) yang Engkau berikan kepadaku itu, demi kemuliaan hari jum’at, hari yang penuh barokah itu, hari yang sangat  mulia yang nilai-Nya dihadapan-Mu begitu agung, aku mohon, hilangkanlah dari diriku kesulitan memberi nafkah keluargaku. Dan aku mohon, berilah aku rezeki yang aku tidak dapat menyangka dari mana datangnya. Karena sesungguhnya diriku ini ya Allah, aku malu pada istri dan keluargaku. Aku juga khawatir jika keadaan baru ini membuat mereka berubah pikiran.


Selesai berdo’a si muda  kembali terlena dalam shalat. Selesai shalat, tiba waktunya shalat Jum’at, maka si muda segera pergi ke masjid yang digunakan untuk shalat Jum’at.


Sementara itu, di sebuah rumah sederhana dimana istri dan anak-anak si muda tinggal, terdengar pintu di ketuk-ketuk. Si istri bergegas membukakan pintu. Tampak di depan pintu seorang pemuda tampan rupawan. Pemuda itu membawa sebuah nampan emas dengan tertutup kain yang juga dihiasi untaian emas. 


Pemuda itu berkata, “Ambilah nampan ini dan katakan pada suamimu, “Ini upah kerjamu selama dua hari. Lebih giatlah dalam bekerja, maka Sang Raja akan menambah upahnya, khususnya pada hari Jum’at. Karena sesungguhya pekerjaan (ibadah) sedikit di hari Jum’at, tetapi di hadapan Sang Raja (Allah) Yang Maha Menguasai, nilainya lebih besar dari pada hari-hari lainnya.”


Setelah istri si muda menerima nampan tersebut, pemuda itupun pergi.


Si istri segera membuka nampan. Dan, betapa terkejut, heran dan takjub ketika perempuan itu mengetahui isi di dalamnya. Nampan itu berisi seribu dinar uang emas.


Si istri mengambil satu keping uang itu lalu membawanya ke tempat penukaran uang. Si penukar uang adalah orang beragama Nasrani. Saat si penukar uang menimbang uang itu, ia terheran-heran karena bobot uang itu melebihi lazimnya uang dinar. Berat satu keping uang itu sebanding dengan dua keping uang dinar biasa. Maka si penukar uang itu meneliti dan mengamati uang tersebut. Sehingga tahulah dia bahwa uang itu bukan sembarang uang. 

“Dari mana engkau mendapatkan uang ini?” tanya si penukar itu masih keharanan.


Istri si muda kemudian menceritakan seluruh kejadian dalam perjalanan hidup yang dialaminya beserta suami dan anak-anaknya.


Mendengar cerita itu, seketika penukar uang itu minta pada istri si muda agar mengajarinya tentang Islam, serta meng-Islamkannya. Begitulah, penukar uang beragama Nasrani itu serta-merta pindah agama. Ia masuk Islam. Setelah menyatakan keIslamannya, ia memberikan uang seribu dirham. Penukar uang itu juga berkata, “belanjakanlah semua uang ini. Jika telah habis, kabari aku.”


Selain mengerjakan shalat Jum’at, si muda keluar dari masjid dan pulang dengan tangan hampa. Di tengah perjalanan ia membentangkan kain lalu mengisinya dengan pasir. Dalam hatinya ia berkata, “jika istriku bertanya tentang apa yang aku bawa ini, akan aku katakan bahwa yang aku bawa adalah tepung gandum.”


Ketika masuk rumah, si muda melihat tikar yang kelihatannya sengaja disiapkan untuk menyambutnya. Padahal, ia ingat di rumahnya tak ada tikar satu pun. Ia juga mencium aroma makanan. Si muda buru-buru meletakkan kain yang diisi dengan pasir itu di balik pintu agar tidak ketahuan istrinya.


Si muda bertanya pada istrinya, tentang apa yang terjadi selama ia tak ada di rumah dan tentang apa saja yang barusan ia lihat di rumah itu.


Si istri menceritakan apa saja yang terjadi selama suaminya itu pergi. 

Begitu mendengarnya, si muda langsung bersujud pada Allah azza wa jalla. Sujud syukur. Kemudian si istri bertanya, “apa yang kamu bawa tadi, yang kamu taruh di balik pintu itu?”


“Kita tidak usah memperdulikan apa yang aku bawa itu,” jawab si muda sekenanya, berusaha mencari alasan.

Tapi, si istri malah mengambil dan mebuka kain itu! 


Dan atas kehendak Allah azza wa jalla, kain yang semula berisi penuh pasir itu berubah menjadi tepung gandum. Melihat hal itu, lagi-lagi si muda sujud syukur pada Allah azza wa jalla.


Sejak kejadian itu, si muda selalu menyibukkan diri beribadah. Dia lebih bersungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla sampai akhir hayatnya.


Rujukan :
📖 ALLAH TIDAK TIDUR, 115 Kisah Teladan penuh Hikmah

Yayasan Fatimah Az Zahra Lampung