Rasulullah beserta Zaid bin Haritsah tinggal di Thaif selama sepuluh hari. Awalnya beliau mendatangi para pemuka mereka, yaitu Abdu Yalail dan kedua saudaranya Mas’ud dan Hubaib. Namun bukan disambut dengan baik malah Rasulullah mendapat perlakuan yang sangat kasar dan buruk.
Salah seorang dari mereka berkata dengan nada merendahkan,” Apakah tuhanmu tidak menemukan orang yang lebih baik darimu untuk diutus?”
Mendengar dan melihat respon dari pemuka tersebut Rasulullah meninggalkan mereka dan meminta tolong agar merahasiakan tentang diri Rasulullah. Para pembesar Thaif malah menolak dan memberitahukan akan kedatangan Rasulullah.
Rasulullah meninggalkan Thaif dengan hati yang remuk dan sedih, bukan hanya penolakan dan cacian tetapi juga lemparan batu yang membuat tumit Rasulullah berlemuran darah. Zaid bin Haritsah yang ikut bersama beliau menjadikan dirinya sebagai perisai sehingga menyebabkan kepalanya mengalami luka-luka untuk melindungi Rasulullah dari lemparan batu.
Rasulullah dan Zaid berlindung dari kejaran dan lemparan kaum Thaif di kebun anggur milik Utbah dan Syaibah. Setelah merasa aman dari kaum Thaif Rasululllah bukannya melaknat dan meminta azab tetapi malah Rasulullah mendoakan mereka.
Beliau berdoa, “Ya Allah! Sesungguhnya kepadaMu lah aku mengadukan kelemahanku, sedikitnya upayaku serta hina diriku di hadapan manusia,
Wahai Tuhan yang maha Pengasih lagi Penyayang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Rabbku
Kepada siapa lagi Engkau serahkan diri ini? Apakah kepada mereka yang jauh lalu menyiksaku atau kepada musuh yang mengendalikan urusanku?
Selama Engkau tidak murka, maka aku tidak akan peduli, akan tetapi ampunanMu lebih aku harapkan.
Aku berlindung dengan cahaya wajahMu yang menyinari kegelapan, memperbaiki segala urusan dunia dan akhirat agar jangan sampai aku ditimpa murka dan amarahMu
Ya Allah bagiMu segalah kepasrahan hingga Engkau meridhaiku, tidak ada daya dan upaya kami melainkan atas kehendakMu.”
Selain itu di beberapa riwayat disebutkan Malaikat Jibril beserta Malaikat penjaga gunung meminta kepada Rasulullah agar berdoa meminta azab menghimpitkan kedua gunung yang besar kepada kaum Thaif agar mereka binasa tetapi Rasulullah malah berkata, “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.”
Referensi :
Muhammad Sang Yatim ” Janji dan Kemenangan yang dinanti” karya Prof.DR. Muhammad Sameh Said
Perjalanan hidup Rasulullah yang Agung Muhammad dari kelahiran hingga detik-detik terakhir karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri



