Diceritakan bahwasanya umat-umat terdahulu yang masih lemah pemikiran dan sedikit pemahamannya, tidak mau membenarkan rasul-rasul mereka sebelum mereka melihat mu’jizatnya secara langsung, seperti halnya dengan umat Nabi Musa ‘Alaihis Salam.
Mereka berkata kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam, “Kami tak akan beriman sebelum kami melihat Allah dengan jelas!” Akhirnya mereka disambar petir karena perbuatan mereka tersebut.
Pada hari kemudian, umat Nabi Musa ‘Alaihis Salam menemui Beliau kembali dan berkata, “Wahai Musa, apakah Tuhanmu tidur?” tanya mereka (Bani Israil) dengan sinis. Nabi Musa ‘Alaihis Salam pun menjawabnya, “Berimanlah kepada Allah.” Katanya dengan singkat. Padahal, di dalam kitab Taurat telah dijelaskan bahwa Allah ta ‘Ala tidak mengantuk dan tidak pula tidur.
Atas pertanyaan mereka tersebut, kemudian Nabi Musa ‘Alaihis Salam membacakan apa yang ada dalam Taurat. Merasa heran, umat Nabi Musa ‘Alaihis Salam pun Kembali berkata, “bagaimana mungkin Allah itu tidak tidur?”
Dengan Kuasa Allah ta ‘ala, maka Allah ta ‘Ala memerintahkan Nabi Musa ‘Alaihis Salam untuk mengambil gelas sebanyak 2 buah yang berisikan penuh dengan air. Setelah kedua gelas tersebut berada dalam genggaman tangan Nabi Musa ‘Alaihis Salam, kemudian Allah ta ‘Ala membuat Nabi Musa ‘Alaihis Salam tertidur lelap, sehingga gelas yang dipegang Nabi Musa ‘Alaihis Salam tersebut jatuh di tanah dan pecah berantakan.
Ketika Nabi Musa ‘Alaihis Salam terbangun dari tidurnya, Allah ta ‘ala berkata kepadanya, “wahai Musa, katakanlah kepada umatmu, seandainya Aku (Allah) tidur, maka hancurlah alam semesta ini sebagaimana hancurnya gelas yang ada dalam genggaman tanganmu saat engkau tertidur.”
Dari kisah yang dialami oleh Nabi Musa ‘Alaihis Salam tersebut, kita harus meyakini bahwa, Allah ta ‘Ala adalah Dzat yang tidak pernah tidur. Dia selalu mengurus makhluknya kapanpun dan di manapun. Dan sesungguhnya Allah ta ‘Ala memuji kita umat Nabi Muhammad Shalaullahu ‘Alaihi Wassalam. Dengan firman-Nya; “Kalian adalah sebaik-baiknya umat,” sebab umat ini (Islam) membenarkan Rasulullah Shalaullahu ‘Alaihi Wassalam, tanpa ditunjukkan mu’jizat dan melihat beliau. Wallahu A’lam..
Rujukan :
📖 ALLAH TIDAK TIDUR, 115 Kisah Teladan penuh Hikmah



