Berdakwah secara terang-terangan dan halangan dari Abu Lahab (bagian 1)
az zahra lampung, sd islam az zahra, pendaftaran sd lampung, sd islam az zahra, sd islam lampung, sd islam bandarlampung
27195
post-template-default,single,single-post,postid-27195,single-format-standard,qode-social-login-1.1.3,qode-restaurant-1.1.1,stockholm-core-1.2.1,select-theme-ver-5.2.1,ajax_fade,page_not_loaded,menu-animation-underline,jet-desktop-menu-active,wpb-js-composer js-comp-ver-6.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22534,elementor-page elementor-page-27195
Title Image

Berdakwah secara terang-terangan dan halangan dari Abu Lahab (bagian 1)

       

Setelah tiga tahun berdakwah secara bersembunyi-sembunyi berjalan, akhirnya wahyu untuk menyampaikan berdakwah secara terang-terangan (Jahriyyah), dan menentang kebatilan. Wahyu yang turun tersebut adalah Asy- Syuara’: 214.


Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, “


Setelah turunnya ayat tersebut, Rasulullah mengundang para kerabat terdekatnya, Bani Hasyim dan beberapa orang Bani al Muthalib bin Abni Manaf. Namun tatkala Rasulullah akan berbicara, tiba-tiba Abu Lahab memotongnya seraya berkata,” Mereka itu adalah paman-pamanmu dan para sepupumu. Bicaralah dan tinggalkanlah menganut agama baru. Ketahuilah ! Bahwa kaummu tidak akan mampu melawan seluruh bangsa Arab. Aku adalah orang yang paling pantas mencegahmu. Aku tidak pernah melihat ada orang yang membawa kepada suku-suku dari pihak bapaknya sesuatu yang lebih jelek dari apa yang telah engkau bawa ini.” Rasulullah hanya diam dan tidak berbicara pada pertemuan itu.


Sekali waktu, beliau mengundang mereka kembali, lantas berkata, ” Sesungguhnya seorang pemimpin tidak mungkin membohongi keluarga sendiri. Demi Allah yang tiada Tuhan selainNya! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang datang kepada kalian secara khusus,kepada manusia secara umum. Demi Allah ! Sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian bangun dari tidur. Sungguh kalian akan dihisab terhadap apa yang kalian lakukan. ” 


Kemudian Abu Thalib berkomentar, ” Alangkah senangnya kami membantumu, menerima nasihatmu. Demi Allah! Aku akan senantiasa melindungi dan membelamu, hanya saja diriku tidak berani berpisah dari agama nenek moyang.”


Ketika itu, Abu Lahab berkata, ” Demi Allah! Ini benar-benar merupakan aib yang besar. Ayo cegahlah dia sebelum orang lain yang turun tangan mencegahnya!

Abu Thalib menjawab,” Demi Allah ! Sungguh selama kami masih hidup, kami akan membelanya


Bersambung . . .


📖 Perjalanan hidup Rasul yang Agung Muhammad dari kelahiran hingga detik-detik akhir karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri



  

Yayasan Fatimah Az Zahra Lampung