Kejujuran membawa hidayah, kisah perampok yang bertaubat karena kejujuran Abdul Qadir Jaelani
az zahra lampung, sd islam az zahra, pendaftaran sd lampung, sd islam az zahra, sd islam lampung, sd islam bandarlampung
27424
post-template-default,single,single-post,postid-27424,single-format-standard,qode-social-login-1.1.3,qode-restaurant-1.1.1,stockholm-core-1.2.1,select-theme-ver-5.2.1,ajax_fade,page_not_loaded,menu-animation-underline,jet-desktop-menu-active,wpb-js-composer js-comp-ver-6.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22534,elementor-page elementor-page-27424
Title Image

Kejujuran membawa hidayah, kisah perampok yang bertaubat karena kejujuran Abdul Qadir Jaelani

Syekh Abdul Qodir Jaelani merupakan seorang tokoh sufi terkenal. Di  masa kecilnya Abdul Qodir sangat rajin, jujur, dan patuh kepada orang tua. Menginjak remaja, Abdul Qodir meminta ijin pergi ke Baghdad untuk lanjut menuntut ilmu pengetahuan dan kebudayaan.


Sang ibu mendukung keinginan tersebut. Namun karena khawatir, ibunya menitipkan Abdul Qodir kepada rombongan kafilah dagang yang hendak menuju ke Baghdad. Sebelum berangkat, sang ibu memberi bekal berupa 80 Dirham. Ia berpesan agar Abdul Qodir menyimpan baik-baik uang tersebut, jika perlu menjahitnya ke dalam baju.


Saat tiba waktu keberangkatan, sang ibu berpesan, “Berangkatlah anakku. Ilmu Allah amatlah luas. Karena itu pelajarilah baik-baik. Satu pesan ibu, jujurlah dalam keadaan apapun pasti engkau akan selamat.” Kemudian Abdul Qodir pun berangkat bersama rombongan. Dalam benaknya ia masih perasaan ibunya. Ia bertekad untuk sebisa mungkin menepati pesan tersebut.


Ditengah perjalanan, dari jauh terdengar teriakan “Berhenti..!” rupanya suara tersebut datang dari gerombolan perampok berkuda. Perampok yang beranggotakan sekitar 60 orang tersebut pengepung rombongan pedagang. Beberapa dari mereka mengacungkan pedang, ada pula yang menarik busur panah diarahkan ke para pedagang.


“Serahkan seluruh harta kalian, dan nyawa kaian akan selamat. Jika menolak, maka kami tak akan segan untuk melukai kalian”, ancam sang pemimpin perampok. Para pedagang menyerahkan semua yang mereka miliki. 


Anehnya tidak ada yang menghampiri Abdul Qodir, mungkin hal ini disebabkan oleh penampilannya yang terlihat sangat sederhana.


“Ini masih sangat sedikit, apakah masih ada yang berani menyembunyikan harta?” Ujar sang pemimpin perampok. Pemimpin perampok tadi menunjuk Abdul Qodir sembari bertanya, “kau anak muda, apakah tidak ada harta berharga yang kau miliki?” 


Abdul Qodir menjawab, “aku masih menyimpan 80 dinar di bajuku.” Setelah menggeledah, merekapun menemukan uang 80 dinar tersebut didalam baju Abdul Qodir. Para perampok pun kebingungan dengan temuannya tersebut. 


Pemimpin perampok bertanya, “Mengapa engkau memberitahu kami mengenai uang ini, padahal kau bisa saja diam dan tetap menyimpannya?” “Aku sudah berjanji kepada ibuku untuk selalu jujur dalam situasi apapun. Aku juga tahu bahwa kebohongan hanya akan membawa pada kemungkaran Allah ta’ala. 


Para perampok tertawa mendengar alasan tersebut. Lalu sang pemimpin mencemooh, “sekarang bagaimana kau akan melanjutkan perjalanmu jika sudah tidak punya apa-apa?” “Aku yakin Allah ta’ala lah yang memberirezeki. Aku yakin bisa tetap ke Baghdad meski harus berjalan kaki.” Jawab Abdul Qodir. Para perampok kemudian pergi, dan rombongan pun melanjutkan perjalanan.


Dan benar, sepanjang perjalanan rombongan seakan ditolong  Allah ta’ala. Ketika kelaparan mereka di jamu saudagar kaya, dan ketika kelelahan mereka menemukan tempat berteduh. Di penghujung perjalanan, para pedagang yang merasa banyak mendapat pertolongan Allah ta’ala merasa bersyukur dan meminta Abdul Qodir untuk menjadikan mereka sebagai murid. 


Belum juga Abdul Qodir menjawab, terdengar teriakan “Heeeiii, Tungguuu..” Muncullah gerombolan pasukan berkuda menghampiri. Abdul Qodir berkata, “Bukankah kalian adalah perampok yang tempo hari? Untuk apa kalian kesini. Kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi.”


Sang perampok berkata, “kami tidak ingin merampok, justru ingin meminta maaf dan mengembalikan harta kalian.” Abdul Qodir dan rombongan pun kaget mendengarnya. Sang pemimpin melanjutkan, “sejak kami merampok kalian, kami terpecah belah. 


Sebagian ingin bertaubat dan sebagian menolak, hingga kami memutuskan untuk berpisah.  “Maafkan kami, dan khususnya kamu anak muda, izinkanlah kami menjadi pengikutmu. Kami ingin memperbaiki kesalahan kami selama ini.” Ujar pemimpin perampok sembari berlinang air mata.


Abdul Qodir tak henti-hentinya bertasbih kepada Allah ta’ala, dan semenjak kejadian itu tetap berpegang teguh untuk selalu menjaga kejujuran.


Rujukan : 

📖 40 Kisah Pengantar Tidur Islam. Ummu Ayesha. Futuh Al-Ghaib. Syaikh Abdul Qodir Jailani


Yayasan Fatimah Az Zahra Lampung